Faktor-Faktor Penentu Gaya Pendisiplinan

Gaya pendisiplinan belajar yang diterapkan orang tua di rumah harus memperhatikan berbagai aspek kepribadian anak, sebagaimana Sylvia Rimm (2000: 49) menyatakan :
Jika Anda terlalu dini dengan sikap kaku, anak kelas bisa menjadi penakut dan tak berani berekspresi. Kalau Anda bersikap negatif dan banyak menghukum, itu akan membuat anak menjadi pemarah dan agresif. Jika Anda terlalu banyak memberi kebebasan, akan mengarahkan anak menjadi implusif dan terlibat pergaulan bebas pada saat remaja. Kalau anak dibiarkan mengambil keputusan seperti orang dewasa terlalu dini, ia tak akan melakukannya dengan bijak dan kelak akan menyesali hal tersebut. Jika pada awalnya Anda terlalu memberikan kebebasan dan kemudian berusaha memegang kendali karena Anda merasa bahwa ia terlalu bebas, maka ini akan membuat anak menjadi remaja pemberontak.

Banyak dasar perilaku tertanam sejak dalam keluarga, juga sikap dan kebiasaan. Faktor luar dari orang tuanya seperti ekonomi, adat istiadat, keadaan orang tunya, kesempatan dan cara memuaskan dirinya (Crow dan Crow, 1990:94). Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan  metode pendisiplinan yang diterapkan orang tua terhadap belajar anaknya :
a.    Status Sosial Ekonomi
Sataus sosial adalah posisi atau kedudukan seseorang ditempatkan. Status sosial sering diartikan dengan kekuasaan dan kedudukan serta kekuatan ekonomi. Weber merujuk pada status atau status sosial yang merupakan prestige yang diberikan berdasarkan hal-hal kemasyarakatan kepada orang yang menduduki posisi tertentu. Weber juga menunjuk pada kekuasaan, yakni kesanggupan memaksakan kehendak seseorang kepada orang-orang lain (Mifflen dan Mifflen, 1986:227)
Menurut Barger (http://organisasi.org) kelas sosial adalah stratifikasi sosial menurut ekonomi. Ekonomi dalam hal ini meliputi sisi pendidikan dan pekerjaan, karena pada zaman sekarang pendidikan dan pekerjaan sangat mempengaruhi kekayaan/perekonomian seseorang.
Status sosial orang tua tentunya beragam, ada yang menjadi pejabat, buruh dan juga pekerja. Maka dengan sendirinya, gaya pendisiplinan yang mereka terapkan kepada anak-anaknya akan berbeda-beda pula.
Ekonomi adalah modal materi dalam kehidupan. Segala kebutuhan primer maupun sekunder tergantung pada kekuatan ekonomi seseorang. Jerome S. Arcaro (2007:72) mengatakan ”kondisi ekonomi sering menjadi penentu tingkat dukungan orang tua. Para orang tua sering menjadi korban kondisi ekonomi yang menghalanginya lebih berperan aktif dalam pendidikan”.
Tingkat ekonomi kelompok atas, kelompok menengah dan kelompok bawah akan memberikan corak pendisiplinan orang tua terhadap belajar anaknya. Kecukupan hidup bukanlah jaminan seseorang mampu menerapkan pendisiplinan belajar anak dengan tepat, begitu juga orang tua yang melewati masa sulit dalam hidupnya mungkin tidak konsisten dalam mendisiplinkan dan menangani anaknya (Rimm, 2000:486).
Status sosial ekonomi orang tua menurut hemat penulis adalah suatu stratifikasi yang muncul spontanitas di masyarakat yang pada umumnya didasarkan pada kedudukan sosial dan kemampuan ekonomi seseorang.
b.    Status Pendidikan
Pendidikan adalah sumber pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu, orang tua yang berpendidikan tinggi mempunyai peluang besar untuk bisa menerapkan gaya pendisiplinan yang tepat bagi anak-anaknya. Ary Ginanjar (2007: 386) mengatakan "kegagalan proses diakibatkan oleh pengetahuan yang terbatas, sehingga terjadi kesalahan-kesalahan teknis”.
Sesungguhnya berhasilnya pendidikan orang tua terhadap anaknya ialah bila ia sendiri juga terdidik, berarti bahwa mendidik itu juga mendidik diri sendiri (Crow dan Crow, 1990:97).  Dengan memahami tingkat emosional dan kepribadian anak, berarti telah bertambah pengetahuan orang tua dalam mengayomi anak-anaknya.
c.    Status Pekerjaan
Pekerjaan oarng tua memang terkait dengan status ekonominya. Akan tetapi, pengertian pekerjaan disini mengarah pada penggunaan waktu, bukan esensi materil. Orang tua yang menghabiskan waktunya untuk bekerja, berarti juga menghabiskan waktunya untuk keluarga, terlebih untuk pendidikan anaknya.
Dalam kondisi yang demikian, orang tua bisa menerapkan beberapa langkah pendisiplinan agar anak tidak lepas dari kontrol orang tuanya. Oleh karena itu, pekerjaan orang tua sangat mempengaruhi gaya pendisiplian yang diterapkan oleh orang tua.
d.    Lingkungan tempat tinggal
Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa beradaptasi dengan lingkungannya. Lingkungan adalah pembentuk watak, karakter dan sikap manusia. Tempat tinggal orang tua semasa kecil, lingkungan pergaulan orang tua dan tempat kerja orang tua akan menjadi tolok ukur model pendisiplinan yang diterapkan kepada anaknya.
e.    Kondisi subjek disiplin (anak)
Masa remaja adalah masa antara datangnya pubertas (11 sampai 14 tahun) sampai usia sekitar 18-masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa ini merupakan masa tersulit bagi remaja dan juga orang tua.
Bryan Lask (1989:119) mengemukakan bahwa adolesen adalah masa-masa sulit antara orang tua dengan anaknya :
  • Remaja mulai menyampaikan kebebasan dan haknya untuk mengemukakan pendapat sendiri. Tidak terhindarkan, ini bisa menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan bisa menjauhkan ia dari keluarganya.
  • Ia lebih mudah dipengaruhi teman-temannya daripada ketika masih kecil. Ini berarti pengaruh orang  tua sendiri pun  melemah. Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda dan bahkan kadang-kadang bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga.
  • Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan, dan menjadi sumber perasaan salah dan frustasi.
  • Remaja sering menjadi terlalu yakin diri, dan ini bersama-sama dengan emosinya meningkat, mengakibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.