Manusia sebagai Subyek Pembentukan Sikap Tawadhu’

Jika pada posting sebelumnya telah dibahas tentang Pengertian Sikap Tawadhu', maka kali ini kita membahas tentang bagaimana Manusia sebagai Subyek Pembentukan Sikap Tawadhu’.
Apabila kita pelajari, manusia sebagai mahkluk historis karena keberadaan manusia memiliki sejarah, maka ia senantiasa berubah dari waktu ke waktu, baik pola pikir maupun pola hidupnya. Karena hal itu, manusia dalam kurun waktu tertentu berbeda dengan eksistensi manusia, yang membedakan pada unsur dan sifatnya ini yang terlihat oleh mata, akan tetapi hakekatnya sama (manusia).

Berkaitan dengan Hakekat Manusia (Suwito, 2004: 73). Ibnu Miskawaih adalah seorang filosof  muslim yang hidup di abad pertengahan, tidak terlepas dari kecenderungan umum zamannya dalam memandang manusia, bahwa hakekat manusia adalah jiwanya, karena jiwa merupakan identitas tetap bagi manusia, jiwa manusia merupakan substansi immaterial yang berdiri, ia tidak terdiri dari unsur-unsur yang membentuknya hingga ia bersifat kekal dan tidak hancur.


Dengan adanya akal, manusia dapat berfikir mana yang baik dan mana yang buruk. Dilain sisi bisa menempatkan sikap yang baik dimanapun dan kapanpun ia berada. 


Manusia selalu sebagai subyek pembentukan sikap tawadhu’. Dengan jiwa yang beradab, akhlak, budi pekerti, etika yang baik tentu saja manusia semakin rendah hati (tawadu’) yang muncul pada jiwanya. Kedudukan akhlak  dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya suatu bangsa dan masyarakat, tergantung pada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlak nya baik (berakhlak), akan sejahteralah lahir batinnya. Akan tetapi apabila akhlaknya buruk (tidak berakhlak) rusaklah lahir dan batinnya. (Rahmat Djanika, 1996: 11).


“Tawadhu’ yang dimaksud adalah tanpa harus menghinakan dirinya, tunduk tetapi tidak merendahkan dirinya.” (Ibnu Abu Dunya, 2004: 24).
 Inilah mengapa manusia disebut sebagai subyek pembentukan sikap tawadhu’, berawal dari jiwa dan jasad yang baik maka akan muncul suatu akhlak. Budi pekerti, etika, sopan dan santun, rendah hati yang baik pula. (Suwito, 2004: 173).

Dasar Pembentukan Sikap Tawadhu’
Berbagai fenomena yang terjadi berupa bencana dimana-mana dan kesulitan yang terjadi bagi siswa atau pelajar maupun santri didalam mendapatkan ilmu dari gurunya. Dan banyaknya perubahan sikap yang baik menjadi tidak baik. Ini tentunya suatu masalah yang besar. 


Sangatlah penting bagi setiap insan untuk memiliki sifat tawadhu’. Yang tujuan pembentukan tawadhu’ agar supaya setiap insan nantinya memperoleh kemuliaan baik dimasyarakat yang ia tinggal lebih-lebih disisi Allah SWT. Dan jika murid atau santri itu tawadhu’ kepada gurunya insyaAllah mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik didunia maupun diakherat.