Bimbingan Keagamaan Pada Siswa

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Bimbingan Keagamaan Siswa
1.    Pengertian Bimbingan
Sebagai bahan acuan pembahasan tentang bimbingan keagamaan, serta kaitannya dengan tingkat kenakalan siswa perlu penulis kemukakan beberapa batasan pengertiannya.
Bimbingan berasal dari kata bahasa inggris GUIDENCE, yang artinya bantuan atau tuntunan. Adapun menurut Bimo Walgito, bimbingan adalah ” bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya agar individu atau sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya. (Walgito, 1995:4)
Menurut Failor bimbingan adalah bantuan kepada seseorang dalam proses pemahaman dan penerimaan terhadap kenyataan yang ada pada dirinya sendiri serta perhitungan (penilaian) terhadap lingkungan sosio ekonomisnya masa sekarang dan kemungkinan masa mendatang dan bagaimana mengintregasikan dua hal tersebut melalui pilihan-pilihan serta penyesuaian diri yang membawa kepada kepuasan hidup pribadi dan kedayagunaan hidup ekonomi sosialnya. (Arifin, 1979:20-21)  
Dari pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada seseorang untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dimasa sekarang dan masa mendatang.
2.    Pengertian Bimbingan Agama
Bila kita menengok sejenak kepada sejarah agama islam maka bimbingan keagamaan telah dilaksanakan para Nabi dan Rasul, para sahabat nabi, para ulama dan para pendidik/pengajar di lingkungan masyarakat dan zaman ke zaman.
Di kalangan masyarakat islam telah pula dikenal prinsip-prinsip yang bersumber dari firman Allah serta sunah nabi sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 153:
Artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini jalan-Ku yang lurus, maka itulah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain), karena dengan jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa”.

Di samping pula sabda nabi yang menjelaskan bahwa nasihat itu kewajiban agama. Seperti sabda nabi yang menyatakan (agama itu adalah nasihat). Meskipun secara ilmiah bimbingan keagamaan belum dikenal baik masyarakat maupun lingkungan pendidikan, namun pengertiannya dapat juga diberikan secara sederhana.
Bimbingan dan penyuluhan agama adalah segala kegiatan yan dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya agar supaya orang tersebut mampu mengatasinya sendiri karena timbul kesadaran atau penyerahan diri terhadap kekuasaan Tuhan Y.M.E sehingga timbul pada diri pribadinya suatu cahaya harapan kebahagiaan hidup saat sekarang dan masa depannya. (Arifin, 1979:25)
Jadi bimbingan tersebut baik pengertian agama nampak jelas tekanannya pada pemberian bantuan atas pertolongan dalam berbagai masalah seseorang dimasa mendatang. Semua aspek yang ada merupakan lahan yang perlu mendapatkan bimbingan yang ruang lingkupnya menurut tujuan masing-masing. Sehingga diharapkan dari itu mempunyai ruang lingkup dan tujuan masing-masing seperti jabatan, bimbingan yang menyangkut kesejahteraan keluarga, namun dalam bimbingan penulis maksud adalah bimbingan yang menyangkut pendidikan keagamaan siswa.
3.    Prinsip-prinsip Bimbingan
Suatu usaha yang tidak mempunyai tujuan/prinsip tidakkah mempunyai apa-apa. Oleh karena itu kiranya sukarlah bagi kita untuk mendapatkan contoh-contoh usaha yang tidak bertujuan dan berprinsip. Oleh karena itu dalam suatu pandangan filosofis yang dijadikan pedoman pelaksananya oleh para pembimbing.
Prinsip-prinsip bimbingan agama menurut Arifin sebagai berikut:
a.       Setiap individu adalah makhluk yang dinamis dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat individual, serta masing-masing mempunyai kemungkinan berkembang dan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
b.      Suatu kepribadian yang bersifat individual tersebut terbentuk dari dua faktor pengaruh yakni pengaruh dari dalam yang berupa bakat dan ciri-ciri keturunan baik jasmaniah maupun rohaniah; dan faktor pengaruh yang diperoleh dari lingkungan baik masa sekarang maupun masa lampau.
c.       Setiap individu adalah makhluk yang berkembang/bertumbuh; dia adalah dalam keadaan yang senantiasa berubah; perkembangannya dapat dibimbing kearah pola hidup yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat sekitar.
d.      Tiap individu memperoleh keuntungan dengan pemberian bantuan dengan hal melakukan pilihan-pilihan. Dalam hal memajukan kemampuan menyesuaikan diri serta dalam mengarahkan kepada kehidupan yang sukses.
e.       Sekolah mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan program bimbingan dan penyuluhan yang diperlukan bagi setiap murid guna mencapai perkembangan yang maksimal baginya.
f.        Masyarakat dapat memperoleh kemajuan karena adanya perkembangan serta kemampuan menyesuaikan diri dari pada anggota-anggotanya secara individual tersebut.
g.       Setiap individu harus diberi hak sama serta kesempatan sama dalam mengembangkan pribadinya masing-masing tanpa memandang perbedaan suku bangsa, agama dan ideologi dan sebagainya.
h.       Setiap individu memiliki fitrah (kemampuan dasar) beragama yang dapat berkembang dengan baik bilamana diberi kesempatan untuk itu memulai bimbingan yang baik.
Pandangan di atas sebagaimana ayat al-Quran dalam surat Ar-Rum ayat 3 sebagai berikut:

Artinya   :     “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.

i.         Perkembangan atau pertumbuhan setiap individu adalah perkembangan atau pertumbuhan yang bersifat menyeluruh, tidak hanya dalam hal berhubungan dengan pengetahuan dan ketrampilan melainkan meliputi kepribadian serta perkembangan menuju masa dewasa yang penuh.
j.        Bimbingan dan penyuluhan berfungsi sebagai penunjang program pendidikan supaya program tersebut dapat berfungsi sebaik mungkin dalam rangka mencapai tujuannya. (Arifin, 1979:31-33)       
4.    Tujuan Bimbingan Agama
Apabila mengamati secara dalam tentang arti bimbingan kita dapat mempersiapkan sedini mungkin masa depan si terbimbing, sesuai dengan arah tujuan yang hendak dicapai.
Pelaksanaan bimbingan agama berjalan dengan sukses apabila memahami bahwa individu mempunyai suatu kepribadian yang sangat berbeda. Hal tersebut terbentuk dari pengaruh baik dari dalam yang berupa bakat bawaan maupun pengaruh dari lingkungan masyarakat.
Keadaan yang senantiasa berubah pada individu itulah yang perlu mendapat perhatian bimbingan, sehingga dapat terarahkan untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Demikian ini merupakan suatu gambaran sekilas tentang kondisi individu yang perlu diperhatikan sebelum kita memberikan bimbingan.
Berdasarkan pengertian bimbingan dan tuntunan yang hendak dicapai dalam mengarahkan dan membimbing, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa tujuan bimbingan adalah mengarahkan individu kepada hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan masa sekarang, masa mendatang dengan cara tanggung jawab, sehingga diharapkan dapat menerapkan ke dalam situasi kehidupan yang sesuai dengan lingkungan yang ada. 
5.    Peran Guru terhadap Bimbingan Keagamaan Siswa
Seorang pendidik atau guru mempunyai tanggung jawab yang sangat berat, dalam membimbing anak didiknya agar selalu melakukan perbuatan yang baik, bersikap sopan dan hormat kepada yang lebih tua, sayang yang muda, menghargai orang lain dan lain sebagainya. Sikap siswa terhadap guru bergantung bagaimana seorang guru bersikap kepada siswanya. Apabila siswa terpenuhi akan kebutuhan, hak dan kewajibannya maka siswa akan menghargai dan menghormati gurunya, tetapi siswa yang merasa terhalang akan pemenuhan kebutuhan hak dan kewajibannya, seringkali siswa akan merasa tertekan oleh sikap guru yang tidak adil dalam perlakuan.
Agar siswa berbuat baik, maka biasakanlah dalam pelaksanaannya karena akan terbiasa dengan apa yang dilakukan guru kepada siswanya. Hal ini tidak dapat ditundukkan dengan akal melainkan dengan pembiasaan. Melalui uraian di atas dapat diketahui betapa pentingya pengaruh pembiasaan terhadap pembentukan kepribadian. Ia akan selalu berbuat baik, menghargai, menghormati orang lain. Dan bagi pendidik atau guru apabila menginginkan anak didiknya berakhlak mulia maka pupuklah sejak dini untuk berbuat baik.
Bagi guru apabila menginginkan  hasil yang baik, maka terlebih dahulu mengetahui bagaimana cara membimbing anak didiknya yang benar dan metode-metode apa saja yang tepat dalam pembimbingan, berikut akan kami uraikan metode-metode tersebut:
a.     Metode Keteladanan
Keteladanan pendidik adalah metode yang meyakinkan berhasil dalam setiap gerakan anak dalam mental spiritual. Hal ini karena guru merupakan contoh terbaik bagi anak didiknya. Disadari atau tidak disadari tindakan, tingkah laku seorang guru telah terletak dalam kejiwaan anak didiknya baik ucapan, perbuatan dan moral spiritual.
b.    Metode Pembiasaan
Masalah yang sudah menjadi ketetapan dalam syariat islam bahwa anak diciptakan dalam keadaan tinta tauhid yang murni, agama yang lurus dan iman kepada Allah. Dari sini peran pembiasaan pengajaran dan pendidikan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak dalam menemukan tauhid yang murni.
c.     Metode nasihat
Metode yang lain yang penting adalah pendidikan mental spiritual. Dengan nasihat dapat membuka mata anak untuk memahami hakikat sesuatu, sehingga memudahkan untuk memahami ajaran-ajaran prinsip islam.
d.    Metode perhatian
Mencurahkan perhatian terhadap kebiasaan perkembangan anak didik akan dapat membantu menumbuhkan akidah moral, dan merupakan persiapan moral spiritual, dan tidak diragukan lagi bahwa dengan perhatian pendidikan ini dianggap masa yang kuat untuk membantu manusia secara utuh dalam menunaikan hak-hak kehidupan dan mendorong untuk bertangungjawab dalam kewajiban yang sempurna. Melalui upaya tersebut diharapkan dapat menjadikannya sebagai muslim hakiki dan juga pondasi keimanan yang kuat.
e.     Metode hadiah dan hukuman
Dengan hukuman anak akan jera, berhenti dari perbuatan dan peka dalam menolak hawa nafsu, dengan ini akan terhindar dari kenistaan dan kemungkaran.
Tetapi perlu diingat bahwa memberi hukuman kepada anak bukan berarti menyakiti, menganiaya dan balas dendam, tetapi merupakan peringatan yang halus. (Ulwan, 1993: 174)
Dengan demikian jelaslah bahwa guru harus menjadikan siswa-siswanya terpelihara dan memiliki sifat-sifat utama memberikan teladan yang baik. Sehingga siswa-siswanya mengikuti melaksanakan ajaran-ajarannya dan meniru akhlak yang baik.