Nabi Muhammad Sebagai Rasul Paling Utama

Seutama-utama rasul itu secara mutlak ialah junjungan kita Babi Besar Muhammad SAW sebagai penutup seluruh nabi dan rasul. Dalam hal ini Allah berfirman :
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat Dia dengan ruh suci” (QS. Baqarah 253)

Dalam ayat di atas disebutkan rasul yang dikaruniai oleh Allah Ta’ala ketinggian beberapa derajat, maka yang dimaksudkan tidak ada lain kecuali junjungan kita Sayyidina Muhammad SAW. Apapun yang dapat digunakan sebagai bukti atau dalil yang paling terang dalam persoalan ini ialah ayat yang terdapat dalam surat Al Imran yang menguraikan beberapa nabi sebelum nabi SAW telah menerima berita gembira akan kedatangannya itu. Bahkan telah diambilnya janji dan sumpah akan berfirman kepada nabi yang akan datang tersebut dan hendak memberikan pertolongannya jikalau mereka mendapati waktu diangkatnya jadi rasul. Allah Ta’ala berfirman :

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: "Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu". (QS. Ali Imran : 81)

Sementara dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabada :
وَاللهِ لَوْ كَانَ مُوْسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتْبَعَنِي.

“Demi Allah, andai kata Musa masih hidup ada di hadapanmu, maka tidak ada tempat baginya melainkan tentu mengikuti ajaranku”.

Adapun larangan Rasulullah SAW kepada umatnya supaya jangan mengadakan anggapan kelebihan keutamaan antara nabi-nabi yang sebagian dengan yang lainnya, telah disabdakan olehnya dalam sebuah hadits yang berbunyi :
لاَ تُفَضِلُّوْا بَيْنَ أَنْبِيَاءِ اللهِ.

“Janganlah kamu semua melebihkan keutamaan antara sesama nabinya Allah”.

Jadi maksudnya ialah sebagai suatu larangan untuk melebihkan dalam mengagungkan beliau-beliau itu dan jangan pula di kalangan kaum muslim ada yang menganggap kurang terhadap salah seorang nabi dari babi-nabi yang diangkat oleh Allah Ta’ala.