Kegiatan Pengembangan Nilai-nilai Agama Pada Anak Usia Dini di TK IT At-Taqwa

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
TK IT AT-TAQWA merupakan salah satu Taman Kanak-Kanak yang ada di Getasan tepatnya di Pendingan Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang didirikan oleh Yayasan Islam Al Iman pada tanggal 12 Juli 2002.

Adapun tujuan didirikan TK IT AT-TAQWA adalah mengembangkan potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, kemandirian, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Karena berlatar belakang sekolah Islam, TK IT AT-TAQWA mempunyai kurikulum keagamaan sendiri yang bertujuan untuk mendasari agama sejak dini kepada anak agar dapat menghasilkan kader-kader Islam yang berakhlakul karimah, hal ini juga tercantum dalam visi dan misi TK IT AT-TAQWA yaitu mencetak anak bangsa berbekal ilmu pengetahuan berdasarkan iman dan taqwa serta misinya yaitu menciptakan nuansa pendidikan formal nan Islami menggali potensi menuju generasi cerdas dan berakhlak mulia.

Program S-1 PG PAUD Universitas Terbuka menargetkan lulusannya menjadi tenaga pendidik PAUD yang profesional yaitu yang dapat mengembangkan program PAUD dan membuat inovasi-inovasi. Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa adalah Analisis Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini. Dalam rangka memenuhi tugas-tugas dalam mata kuliah tersebut maka telah dilakukan penelitian di TK IT AT-TAQWA yang bertujuan mengumpulkan data mengenai kegiatan- kegiatan anak yang dianggap perlu diteliti lebih lanjut untuk selanjutnya dianalisis secara kritis khususnya pembelajaran di TK IT AT-TAQWA.
 
Fokus Penelitian
Setelah dilakukan observasi di TK IT AT-TAQWA maka peneliti memfokuskan pada salah satu kegiatan anak yaitu "Kegiatan Pengembangan Nilai-nilai Agama Melalui Hafalan Doa, Kalimat Toyibah sebelum melaksanakan kegiatan pada anak-anak TK IT AT-TAQWA ".
 
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
Mengumpulkan data mengenai proses :
  1. Pembelajaran yang mengembangkan nilai-nilai keagamaan sebagai pembentukan dasar pemahaman Ketuhanan pada anak TK IT AT-TAQWA.
  2. Tujuan pendidikan melakukan kegiatan tersebut.
  3. Kebijakan yang mendukung pendidikan melakukan kegiatan tersebut.
Membuat analisis kritis ( Critical Analysis) mengenai kegiatan tersebut.
 
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk :
  1. Memberi masukan terhadap kegiatan pengembangan anak di TK IT AT-TAQWA.
  2. Melatih mahasiswa melakukan penelitian kelas.
  3. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisis suatu kegiatan anak di Taman Kanak-Kanak.
BAB II
LANDASAN TEORI

Pengertian Agama 
Agama (Sansekerta, a = tidak; gama : kacau) artinya tidak kacau; atau adanya keteraturan dan peraturan untuk mencapai arah atau tujuan tertentu. Religio (dari religere, Latin) artinya mengembalikan ikatan, memperhatikan dengan seksama; jadi agama adalah tindakan manusia untuk mengembalikan atau memulihkan hubungan dengan Ilahi.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Agama adalah aturan dan wahyu Tuhan yang sengaja diturunkan agar manusia hidup teratur, damai, sejahtera, bermartabat dan bahagia baik di dunia dan di akhirat.

Ajaran agama juga berisi seperangkat norma yang akan mengantar manusia pada suatu peradaban masyarakat. Kedudukan agama bersifat primer maka secara akal sehat kita sepakat bahwa agama sangat perlu ditanamkan sejak dini kepada anak kita. Menanamkan nilai-nilai agama kepada anak adalah tugas orang tua selaku guru pertama dan utama di rumah dan di keluarga, juga merupakan tugas guru selaku orang tua kedua di sekolah.
Pada usia dini pemahaman agama identik dengan pemahamannya akan Tuhan yaitu bagaimana mereka memahami keberadaan Tuhan-nya. Secara umum bayangan anak terhadap Tuhan berubah mulai dari yang bersifat fisik, semi fisik sampai akhirnya Abstrak. Menurut F. Oser (dalam penelitian Ted Slater) mengajukan lima tahapan sampai akhirnya anak memiliki pemahaman yang matang terhadap Tuhan :
  1. Tahap pertama     : Tuhan dianggap sangat kuat secara fisik
  2. Tahap kedua : Tuhan adalah pemberi keuntungan dan kebaikan
  3. Tahap ketiga : Tuhan adalah sahabat pribadi
  4. Tahap keempat : Tuhan adalah pembuat aturan-aturan hukum
  5. Tahap kelima    : Tuhan adalah sebagai semangat atau penggerak aksi-aksi moral.
Menurut Piaget tahapan pemahaman terhadap Tuhan adalah sebagai berikut:
  1. Tahap 1 pemahaman anak akan Tuhan masih belum jelas, mereka cenderung adanya suatu obyek sebagai pemahaman akan Tuhan. Misal: rumah ibadah, perlengkapan ibadah.
  2. Tuhan dianggap sebagai pencipta. Maha Pencipta (Tamminen, Vianello, Jaspard, dan Ratcliff, 1988 dalam Penelitian Ted Slater ).
Dalam masa pembentukan konsep Tuhan selanjutnya anak sering memikirkan Tuhan awalnya dalam bentuk fisik, karena bagi mereka sulit untuk menggambarkan Tuhan dalam bentuk non fisik. 
Oleh karena itu Tuhan sering diasosiasikan sebagai pahlawan atau super hero. Menurut anak-anak Tuhan memiliki karakter yang menyenangkan ( Heller 1986 dalam Penelitian Ted Slater ). 
Target dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan kepada anak Taman Kanak-kanak adalah diharapkan mampu mewarnai pertumbuhan dan perkembangan dari diri mereka sehingga diharapkan akan muncul suatu dampak positif yang berkembang meliputi fisik, akal pikiran, akhlaq, perasaan, kejiwaan, estetika dan kemampuan sosialisasinya diwarnai dengan nilai-nilai keagamaan. 
Jika kita kaitkan dengan tujuan pengembangan kehidupan beragama bagi anak Taman Kanak-kanak, maka hal tersebut dilakukan dalam rangka menanamkan benih-benih keimanan dan ketakwaan sendiri mungkin dalam kepribadian anak didik sebagaimana terlihat dalam perkembangan kehidupan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkat perkembangan (Dirjen Didasmen RI dalam Elis 5, 2003 : 5 ) 
Sifat-sifat Pemahaman Anak TK Terhadap Nilai-nilai Agama
Sifat-sifat Pemahaman Anak TK Terhadap Nilai-nilai Agama pada Saat Mengikuti Kegiatan Belajar Diantaranya :
  1. Unreflective pemahaman dan kemampuan anak dalam mempelajari nilai-nilai agama sering menampilkan suatu hal yang tidak serius. Mereka melakukan kegiatan ibadah pun dengan sikap dan sifat-sifat dasar yang kekanak-kanakan tidak mampu memahami konsep agama dengan mendalam.
  2. Egosentris dalam mempelajari nilai-nilai agama anak-anak usia TK kadang belum mampu bersikap dan bertindak konsisten. Anak lebih terfokus pada hal-hal yang menguntungkan dirinya.
  3. Misunderstand anak akan mengalami salah pengertian dalam memahami suatu ajaran agama yang banyak bersifat abstrak.
  4. Verbalis dan R.itualis, kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan nilai-nilai agama pada diri mereka dengan cara agamis seperti memberi latihan menghafal, mengucapkan, memperagakan.
  5. Imitative anak banyak belajar dari apa yang mereka lihat secara langsung, mereka banyak meniru dari apa yang pernah dilihatnya sebagai sebuah pengalaman.
Strategi Pengembangan Nilai-nilai Agama
Strategi yang diperlukan dalam pengembangan nilai-nilai agama :
  1. Kegiatan Rutinitas. Kegiatan ini meliputi memberi salam, mengucapkan dan menunjukkan sikap berdoa, pembiasaan melafalkan doa-doa harian.
  2. Kegiatan Terintregrasi. Kegiatan pengembangan materi nilai-nilai agama yang disisipi melalui pengembangan bidang kemampuan dasar lainnya.
  3. Kegiatan Khusus. Merupakan program kegiatan belajar yang berisi pengembangan kemampuan dasar nilai-nilai agama yang pelaksanaannya disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan waktu yang tersedia. Contoh : untuk agama Islam meliputi Hafalan hadits, surat- surat pendek, wudhu, sholat, kalimat toyibah, asmaul husna, manasik haji, zakat fitrah, dan qurban.
  4. Muatan Materi Pembelajaran dalam Proses Pembinaan dan Pengembangan Nilai-nilai Agama Bagi Anak-anak Usia Taman Kanak-kanak :
  • Aplikatif adalah materi pembelajaran yang bersifat terapan berkaitan dengan kegiatan rutinitas anak sehari-hari dan sangat dibutuhkan untuk kepentingan aktifitas anak serta dapat dilakukan anak dalam kehidupannya.
  • Enjoyable adalah pengerjaan materi dan materi yang dipilih diupayakan membuat anak mampu menikmati dan mau mengikuti dengan antusias.
  • Mudah ditiru materi yang disajikan dapat dipraktekan sesuai dengan kemampuan fisik dan karakter lahiriah anak.
 Download Artikel :