Pola Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

Pengertian Pendekatan Kontekstual
Model pembelajaran dalam menulis pada saat ini jarang sekali digunakan, bahkan sebagian besar guru menggunakan cara lama. Melalui penelitian ini, penulis mengujicobakan model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Model pembelajaran yang dimaksud adalah Pendekatan Kontekstual.

pengertian dan penerapan pembelajaran kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan salah satu model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menciptakan suatu pembelajaran yang kondusif dan dapat memberikan suatu inovasi dalam pembelajaran.
Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.  Dikemukakan Mulyasa (2006: 102) bahwa dengan Pendekatan Kontekstual peserta didik akan memperoleh makna yang mendalam, proses belajar yang tenang, menyenangkan, dan dapat mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajarinya. Selanjutnya dikemukakan pada Mulyasa (2006: 103) bahwa Pembelajaran Kontekstual mendorong peserta didik memahami hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2006: 259) bahwa Pendekatan Kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelajaran Konvensional. Perbedaan tersebut sebagai berikut:
  1. CTL menempatkan siswa sebagai subyek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran Konvensional siswa ditempatkan sebagai obyek belajar yang menerima informasi secara pasif.
  2. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara real, sedangkan dalam pembelajaran Konvensional bersifat teoritis dan abstrak.
  3. Tujuan terakhir dan proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran Konvensional tujuan akhir adalah nilai atau angka.
  4. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan konstruksi oleh orang lain.
  5. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara, misalnya evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam pembelajaran Konvensional keberhasilan biasanya hanya diukur dari tes.
  6. Dalam proses Pembelajaran Kontekstual guru seharusnya memahami tipe belajar dalam dunia siswa (tipe visual, auditorial, dan kinestesis) artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Kenyataan di lapangan ini selalu dilupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, padahal guru bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  7. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Hal ini sejalan dengan pendapat Wina Sanjaya (2006: 263) bahwa belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui.
Pola Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dikemukakan Wina Sanjaya (2008: 272) yaitu sebagai berikut:
Kegiatan Pendahuluan
  1. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dan proses pembelajaran dan pentingnya materi yang akan dipelajari.
  2. Guru menjelaskan prosedur CTL
  3. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa.
  4. Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi/ pengamatan. Misalnya, kelompok 1 dan 2 melakukan observasi tanaman bunga di halaman sekolah, kelompok 3 dan 4 melakukan observasi tanaman buah yang ada di halaman sekolah, kelompok 5 dan 6 mengamati benda-benda yang ada kaitannya dengan kebersihan halaman.
  5. Melalui observasi siswa ditugaskan untuk menulis 5 kata dan 5 kalimat yang sesuai dengan tugasnya.
  6. Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap kelompok.
Kegiatan Inti
Di lapangan
  1. Siswa melakukan observasi ke halaman sekolah sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
  2. Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di halaman sekolah berupa tulisan berbentuk kata dan kalimat sesuai dengan tugas masing-masing kelompok.
Di dalam kelas
  1. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
  2. Siswa melaporkan hasil diskusi.
  3. Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain dengan bimbingan guru.
Penutup
  1. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi di sekitar halaman sekolah.
  2. Guru menugaskan siswa sebagai perwakilan dari tiap kelompok untuk membacakan 5 buah kata dan 5 buah kalimat sederhana sesuai dengan pengalaman belajar mereka yang di dapat dari lingkungan sekolah.
Berdasarkan pada pendapat Wina Sanjaya tersebut di atas, kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat memperoleh informasi, akan tetapi tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan, materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri bukan hasil dari temuan orang lain. Selanjutnya Wina Sanjaya (2008: 272) mengemukakan CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.